Selasa, 12 September 2017

SEJARAH GEOMORFOLOGI DAN PROSES GEOMORFIK





Sejarah Geomorfologi







a.Geomorfologi Kuno



Herodotus (425 – 485 SM)

Mesir dianggap telah mendapat hadiah dari sungai karena adanya serpih lempung yang diendapkan sungai Nil setiap tahun

 Gempabumi adalah pegunungan yang menggeliat karena dewa sedang marah.

  Temuan fosil kerang di puncak – puncak perbukitan di Mesir menyebabkan Herodatus menarik kesimpulan berdasarkan temuannya tersebut bahwa air laut telah menggenangi dataran Mesir.

Kesimpulan Herodatus tersebut merupakan dasar pemikiran perubahan muka air laut yang menjadi bahasan penting di dalam Geomorfologi.



Aristoteles (384 - 322 SM)

Aristoteles meyakini air yang mengalir dari mata air disebabkan oleh (a) air hujan yang terjebak pada lapisan tanah, (b) air yang terbentuk karena penguapan dari air yang masuk kedalam bumi, dan (c) air yang terkondensasikan di dalam bumi berasal dari embun yang tidak diketahui asal - usulnya. gempabumi dan gunungapi memiliki sumber kejadian yang sama

menyebutkan bahwa gempabumi berpengaruh terhadap pencampuran udara basah dan udara kering di bumi.

Yang membawa material dari daratan ke laut adalah aliran dan diendapkan sebagai alluvium

Pemahaman tentang debit aliran selama periode hujan telah dikembangkan oleh Bernard Palissi (1563 dan 1580) dan Pierre Perrault (1674) yang menyebutkan bahwa curah hujan mampu membentuk aliran sungai.



Strabo (54 SM - 25)

Gunung Visuvius adalah gunungapi yang telah mati.

 Aluvium sungai dan delta sungai yang memiliki bermacam - macam ukuran selaras dengan luas daerah aliran sungai alamiah



Seneca ( ? - 65)

Salah satu faktor menyebabkan terjadinya gempabumi lokal adalah kekuatan tenaga dari dalam bumi.

Curah hujan bukan salah satu sumber yang menyebabkan aliran sungai.

Tenaga arus dapat menggerus lembah.

Pemikiran - pemikiran kuno telah menyebutkan bahwa terdapat hubungan proses (genetik) antara gempabumi dengan dengan deformasi kulit bumi.







b.Geomorfologi Modern



Ibn Sina (980 - 1037)

asal - usul pegunungan dibedakan menjadi dua kelas, yaitu (1) hasil dari suatu pengangkatan bumi, seperti bagian dari gempabumi dan (2) pengaruh aliran air yang disertai dengan hembusan angin di suatu lembah yang bersusunan batuan lunak.

Pembuktian yang sangat luas tentang konsep Ibnu Sina telah ilakukan oleh sekelompok muridnya yang bukan berasal dari orang Arab dan dikenal dengan judul " DISCOURSES OF THE BROTHERS OF PURITY " (bahasan saudara yang seiman) pada tahun 941 dan 982 (Said, 1950). Didalam empat volume buku yang disusun tersebut diceritakan tentang erosi dan transportasi oleh arus dan angin, pelapukan serta awal pemikiran peneplain.



Leonardo da Vinci (1452 - 1519)

Lembah dipotong oleh arus, dan arus membawa material dari salah satu tempat dipermukaan bumi kemudian diendapkan pada suatu tempat.



Arti Penting Geomorfologi

Geomorfologi sebagai ilmu mempunyai arti yang penting, seperti peranannya. Dalam geografi fisik dan terapannya dalam penelitian. Thornbury menyatakan bahwa ada lima kelompok terapan   geomorfologi, yaitu:

1.Terapan geomorfologi dalam hidrologi, yang membahas hidrologi di daerah karst dan air tanah daerah glasial.

2.Terapan geomorfologi dalam geologi ekonomi, yaitu membahas pendekatan geomorfologi untuk menentukan tubuh bijih, jebakan residu, mineral epigenetik, dan endapan bijih

3.Terapan geomorfologi dalam keteknikan, aspek keteknikan yang dibahas meliputi jalan raya, penentuan pasir, dan kerakal, pemilihan situs bendungan dan geologi militer.

4.Terapan geomorfologi dalam ekplorasi minyak, banyak unsur-unsur minyak di AS yang ditentukan dengan pendekatan geomorfologi terutama bentuklahan termasuk topografi, untuk mengenal struktur geologi dalam penentuan terdapatnya kandungan minyak.

5.Terapan geomorfologi dalam bidang lain, yaitu menyangkut pemetaan tanah, kajian pantai, dan erosi.





Proses Geomorfik



Geomorfologi merupakan suatu studi yang mempelajari asal (terbentuknya) topografi sebagai akibat dari pengikisan (erosi) elemen-elemen utama, serta terbentuknya material-material hasil erosi. Melalui geomorfologi dipelajari cara-cara terjadi, pemerian, dan pengklasifikasian relief bumi. Relief bumi adalah bentuk-bentuk ketidakteraturan secara vertikal (baik dalam ukuran ataupun letak) pada permukaan bumi, yang terbentuk oleh pergerakan-pergerakan pada kerak bumi.

Konsep-konsep dasar dalam geomorfologi banyak diformulasikan oleh W.M. Davis. Davis menyatakan bahwa bentuk permukaan atau bentangan bumi (morphology of landforms) dikontrol oleh tiga faktor utama, yaitu struktur, proses, dan tahapan. Struktur di sini mempunyai arti sebagai struktur-struktur yang diakibatkan karakteristik batuan yang mempengaruhi bentuk permukaan bumi (lihat Gambar 1). Proses-proses yang umum terjadi adalah proses erosional yang dipengaruhi oleh permeabilitas, kelarutan, dan sifat-sifat lainnya dari batuan. Bentuk-bentuk pada muka bumi umumnya melalui tahapan-tahapan mulai dari tahapan muda (youth), dewasa (maturity), tahapan tua (old age), lihat Gambar 2.Pada tahapan muda umumnya belum terganggu oleh gaya-gaya destruksional, pada tahap dewasa perkembangan selanjutnya ditunjukkan dengan tumbuhnya sistem drainasedengan jumlah panjang dan kedalamannya yang dapat mengakibatkan bentuk aslinya tidak tampak lagi. Proses selanjutnya membuat topografi lebih mendatar oleh gaya destruktif yang mengikis, meratakan, dan merendahkan permukaan bumi sehingga dekat dengan ketinggian muka air laut (disebut tahapan tua). Rangkaian pembentukan proses (tahapan-tahapan) geomorfologi tersebut menerus dan dapat berulang, dan sering disebut sebagai Siklus Geomorfik.

Description: clip_image002

Gambar 1. Sketsa yang memperlihatkan bentuk-bentuk permukaan bumi akibat struktur geologi pada batuan dasarnya.


Gambar 2. Sketsa yang memperlihatkan perkembangan (tahapan) permukaan bumi (landform). Dari (A s/d D) memperlihatkan tahapan geomorfik muda sampai dengan tua.

Selanjutnya dalam mempelajari geomorfologi perlu dipahami istilah-istilah katastrofisme, uniformiaterianisme, dan evolusi.

§  Katastrofisme merupakan pendapat yang menyatakan bahwa gejala-gejala morfologi terjadi secara mendadak, contohnya letusan gunung api.

§  Uniformitarianisme sebaliknya berpendapat bahwa proses pembentukkan morfologi cukup berjalan sangat lambat atau terus menerus, tapi mampu membentuk bentuk-bentuk yang sekarang, bahkan banyak perubahan-perubahan yang terjadi pada masa lalu juga terjadi pada masa sekarang, dan seterusnya (James Hutton dan John Playfair, 1802).

§  Evolusi cenderung didefinisikan sebagai proses yang lambat dan dengan perlahan-lahan membentuk dan mengubah menjadi bentukan-bentukan baru.

1. Proses-Proses Geomorfik

Proses-proses geomorfik adalah semua perubahan fisik dan kimia yang terjadi akibat proses-proses perubahan muka bumi. Secara umum proses-proses geomorfik tersebut adalah sebagai berikut :

a. Proses-proses epigen (eksogenetik) :

§  Degradasi ; pelapukan, perpindahan massa (perpindahan secara gravity), erosi (termasuk transportasi) oleh : aliran air, air tanah, gelombang, arus, tsunami), angin, dan glasier.

§  Aggradasi ; pelapukan, perpindahan massa (perpindahan secara gravity), erosi (termasuk transportasi) oleh : aliran air, air tanah, gelombang, arus, tsunami), angin, dan glasier.

§  Akibat organisme (termasuk manusia)

b. Proses-proses hipogen (endogenetik)

§  Diastrophisme (tektonisme)

§  Vulkanisme

c. Proses-proses ekstraterrestrial, misalnya kawah akibat jatuhnya meteor.



1.1 Proses Gradasional

Istilah gradasi (gradation) awalnya digunakan oleh Chamberin dan Solisbury (1904) yaitu semua proses dimana menjadikan permukaan litosfir menjadi level yang baru. Kemudian gradasi tersebut dibagi menjadi dua proses yaitu degradasi (menghasilkan level yang lebih rendah) dan agradasi (menghasilkan level yang lebih tinggi).

Tiga proses utama yang terjadi pada peristiwa gradasi yaitu :

§  Pelapukan, dapat berupa disentrigasi atau dekomposisi batuan dalam suatu tempat, terjadi di permukaan, dan dapat merombak batuan menjadi klastis. Dalam proses ini belum termasuk transportasi.

§  Perpindahan massa (mass wasting), dapat berupa perpindahan (bulk transfer) suatu massa batuan sebagai akibat dari gaya gravitasi. Kadang-kadang (biasanya)efek dari air mempunyai peranan yang cukup besar, namun belum merupakan suatu media transportasi.

§  Erosi, merupakan suatu tahap lanjut dari perpindahan dan pergerakan masa batuan. Oleh suatu agen (media) pemindah. Secara geologi (kebanyakan) memasukkan erosi sebagai bagian dari proses transportasi.

Secara umum, series (bagian/tahapan) proses gradisional sebagai berikut landslides (dicirikan oleh hadirnya sedikit air, dan perpindahan massa yang besar), earthflow (aliran batuan/tanah), mudflows (aliran berupa lumpur), sheetfloods, slopewash, dan stream (dicirikan oleh jumlah air yang banyak dan perpindahan massa pada ukuran halus denganslopeyang kecil).



a. Pelapukan batuan

Pelapukan merupakan suatu proses penghancuran batuan manjadi klastis dan akan tekikis oleh gaya destruktif. Proses pelapukan terjadi oleh banyak proses destruktif, antara lain :

§  Proses fisik dan mekanik (desintegrasi) seperti pemanasan, pendinginan, pembekuan; kerja tumbuh-tumbuhan dan binatang , serta proses-proses desintegrasi mekanik lainnya

§  Proses-proses kimia (dekomposisi) dari berbagai sumber seperti : oksidasi, hidrasi, karbonan, serta pelarutan batuan dan tanah. Proses dekomposisi ini banyak didorong oleh suhu dan kelembaban yang tinggi, serta peranan organisme (tumbuh-tumbuhan dan binatang).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pelapukan antara lain :

§  jenis batuan, yaitu komposisi mineral, tekstur, dan struktur batuan

§  kondisi iklim dan cuaca, apakah kering atau lembab, dingin atau panas, konstan atau berubah-ubah.

§  kehadiran dan kelebatan vegetasi

§  kemiringan medan, pengaruh pancaran matahari, dan curah hujan.

Proses pelapukan berlangsung secara differential weathering(proses pelapukan dengan perbedaan intensitas yang disebabkan oleh perbedaan kekerasan, jenis, dan struktur batuan). Hal tersebut menghasilkan bentuk-bentuk morfologi yang khas seperti:

§  bongkah-bongkah desintegrasi (terdapat pada batuan masif yang memperlihatkan retakan-retakan atau kekar-kekar),

§  stone lattice (perbedaan kekerasan lapisan batuan sedimen yang membentuknya), mushroom (berbentuk jamur),

§  demoiselles (tiang-tiang tanah dengan bongkah-bongkah penutup),

§  talus (akumulasi material hasil lapukan di kaki tebing terjal),

§  exfoliation domes (berbentuk bukit dari batuan masif yang homogen, dan mengelupas dalam lapisan-lapisan atau serpihan-serpihan melengkung).

Pada Gambar 3 dapat dilihat kenampakan talus dan exfoliation domes.

Description: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/7a/17/46/7a1746f6ead1b789dc13de0792ebd4f2.jpgDescription: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjYEXYsXeG9Z4ACfHQHS3kJf9AqkHj_0EHiDDr3thaDeYdZi5nOgt7_p0C97wqs3qWU-uF1s8LhreZLltz78V54pSYUIeQBd1IwpZDStm-eYziil9vitCadWCnF-oSGDA0MvNuzl-Y0Is/s200/Dome+Rock.jpg

a                                                                              b
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqtgiADSp0ToN0UYOEeSy2QSj58k9Yob1x4pEE7QDPS00VrefBmzmA1sJdJG4cj9i5S-UagF4p8L-wl3-EU6492jIdFaTU6_Zro2W5nAYaLSD2DC0F3JutQ2Repwy9BEf82q7J27aHXiU/s1600/e1.pngDescription: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLYSlO1INbVOGMHVZqESCYYmu4SK_b1l4Y-DRfGyfGDltVWd4R_2pE4K4rmCyYTIwqPVtpFtRKD24TRXduyiaPTXJbrCJbvtvRVytyoMqVA7ApwROcAYm6c3cOWNPsPFegl7Y_eNO4U1U/s320/stone.jpg
c                                                                 d

Gambar 3. (a). Kenampakan bentuk talus, (b). Suatu exfolation domes,

(c). demoiselles, (d). mushroom







b. Perpindahan massa (mass wasting)

Gerakan tanah sering terjadi pada tanah hasil pelapukan, akumulasi debris (material hasil pelapukan), tetapi dapat pula pada batuan dasarnya. Gerakan tanah dapat berjalan sangat lambat hingga cepat.
Gambar 4 Mass wasting

Description: http://maps.unomaha.edu/maher/geo117/part2/masswastingpics/Conchitaslump.jpg

Menurut oleh Sharpe (1938) kondisi-kondisi yang menyebabkan terjadinya perpindahan masa adalah :

§  Faktor-faktor pasif

1.      faktor litologi : tergantung pada kekompakan/rapuh material

2.      faktor statigrafi : bentuk-bentuk pelapisan batuan dan kekuatan (kerapuhan), atau permeabel-impermeabelnya lapisan

3.      faktor struktural : kerapatan joint, sesar, bidang geser-foliasi

4.      faktor topografi : slope dan dinding (tebing)

5.      faktor iklim : temperatur, presipitasi, hujan

6.      faktor organik : vegetasi

§  Faktor-faktor aktif

1.      proses perombakan

2.      pengikisan lereng oleh aliran air

3.      tingkat pelarutan oleh air atau pengisian retakan







1.2 Proses Diastromisme dan Vulkanisme

Diastromisme dan vulkanisme diklasifikasikan sebagai proses hipogen atau endapan karena gaya yang bekerja berasal dari dalam (bagian bawah) kerak bumi. Proses-proses diastropik dapat dikelompokkan menjadi 2 tipe yaitu :

1.      orogenik (pembentukkan pegunungan)

2.      epirogenik (proses pengangkatan secara regional).

Vulkanisme termasuk pergerakan dari larutan batuan (magma) yang menerobos ke permukaan bumi. Akibat dari pergerakan (atau penerobosan) magma tersebut akan memberikan kenampakan yang muncul di permukaan berupa badan-badan intrusi, atau berupa deomal folds (lipatan berbentuk dome) akibat terobosan massa batuan tersebut), sehingga perlapisan pada batuan di atasnya menjadi tidak tampak lagi atau telah terubah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar