Sejarah Geomorfologi
a.Geomorfologi Kuno
Herodotus (425 – 485 SM)
Mesir dianggap telah mendapat hadiah dari
sungai karena adanya serpih lempung yang diendapkan sungai Nil setiap tahun
Gempabumi adalah pegunungan yang menggeliat karena dewa sedang
marah.
Temuan fosil kerang di
puncak – puncak perbukitan di Mesir menyebabkan Herodatus menarik kesimpulan
berdasarkan temuannya tersebut bahwa air laut telah menggenangi dataran Mesir.
Kesimpulan Herodatus tersebut merupakan dasar pemikiran
perubahan muka air laut yang menjadi bahasan penting di dalam Geomorfologi.
Aristoteles (384 - 322 SM)
Aristoteles meyakini air yang mengalir dari
mata air disebabkan oleh (a) air hujan yang terjebak pada lapisan tanah, (b)
air yang terbentuk karena penguapan dari air yang masuk kedalam bumi, dan (c)
air yang terkondensasikan di dalam bumi berasal dari embun yang tidak diketahui
asal - usulnya. gempabumi dan gunungapi memiliki sumber
kejadian yang sama
menyebutkan bahwa gempabumi berpengaruh terhadap pencampuran
udara basah dan udara kering di bumi.
Yang membawa material dari daratan ke laut adalah aliran dan
diendapkan sebagai alluvium
Pemahaman tentang debit aliran selama periode hujan telah
dikembangkan oleh Bernard Palissi (1563 dan 1580) dan Pierre Perrault (1674)
yang menyebutkan bahwa curah hujan mampu membentuk aliran sungai.
Strabo (54 SM - 25)
Gunung Visuvius adalah gunungapi yang telah
mati.
Aluvium sungai dan
delta sungai yang memiliki bermacam - macam ukuran selaras dengan luas daerah
aliran sungai alamiah
Seneca ( ? - 65)
Salah satu faktor menyebabkan terjadinya gempabumi lokal adalah
kekuatan tenaga dari dalam bumi.
Curah hujan bukan salah satu sumber yang menyebabkan aliran
sungai.
Tenaga arus dapat
menggerus lembah.
Pemikiran - pemikiran kuno telah menyebutkan bahwa terdapat
hubungan proses (genetik) antara gempabumi dengan dengan deformasi kulit bumi.
b.Geomorfologi Modern
Ibn Sina (980 - 1037)
asal - usul pegunungan dibedakan menjadi dua kelas, yaitu (1)
hasil dari suatu pengangkatan bumi, seperti bagian dari gempabumi dan (2)
pengaruh aliran air yang disertai dengan hembusan angin di suatu lembah yang
bersusunan batuan lunak.
Pembuktian yang sangat luas tentang konsep Ibnu Sina telah
ilakukan oleh sekelompok muridnya yang bukan berasal dari orang Arab dan
dikenal dengan judul " DISCOURSES OF THE BROTHERS OF PURITY "
(bahasan saudara yang seiman) pada tahun 941 dan 982 (Said, 1950). Didalam
empat volume buku yang disusun tersebut diceritakan tentang erosi dan transportasi oleh arus
dan angin, pelapukan serta awal pemikiran peneplain.
Leonardo da Vinci (1452 - 1519)
Lembah dipotong oleh arus, dan arus membawa material dari salah
satu tempat dipermukaan bumi kemudian diendapkan pada suatu tempat.
Arti Penting Geomorfologi
Geomorfologi sebagai ilmu mempunyai arti yang penting, seperti
peranannya. Dalam geografi fisik dan terapannya dalam penelitian.
Thornbury menyatakan bahwa ada lima kelompok
terapan geomorfologi, yaitu:
1.Terapan geomorfologi dalam hidrologi, yang membahas hidrologi
di daerah karst dan air tanah daerah glasial.
2.Terapan geomorfologi dalam geologi ekonomi, yaitu membahas
pendekatan geomorfologi untuk menentukan tubuh bijih, jebakan residu, mineral
epigenetik, dan endapan bijih
3.Terapan geomorfologi dalam keteknikan, aspek keteknikan yang
dibahas meliputi jalan raya, penentuan pasir, dan kerakal, pemilihan situs
bendungan dan geologi militer.
4.Terapan geomorfologi dalam ekplorasi minyak, banyak
unsur-unsur minyak di AS yang ditentukan dengan pendekatan geomorfologi
terutama bentuklahan termasuk topografi, untuk mengenal struktur geologi dalam
penentuan terdapatnya kandungan minyak.
5.Terapan geomorfologi dalam bidang lain, yaitu menyangkut
pemetaan tanah, kajian pantai, dan erosi.
Proses
Geomorfik
Geomorfologi merupakan suatu studi yang
mempelajari asal (terbentuknya) topografi sebagai akibat dari pengikisan
(erosi) elemen-elemen utama, serta terbentuknya material-material hasil erosi.
Melalui geomorfologi dipelajari cara-cara terjadi, pemerian, dan pengklasifikasian
relief bumi. Relief bumi adalah
bentuk-bentuk ketidakteraturan secara vertikal (baik dalam ukuran ataupun
letak) pada permukaan bumi, yang terbentuk oleh pergerakan-pergerakan pada
kerak bumi.
Konsep-konsep dasar dalam geomorfologi banyak diformulasikan
oleh W.M. Davis. Davis menyatakan bahwa bentuk permukaan atau bentangan bumi (morphology of landforms) dikontrol oleh tiga faktor utama, yaitu
struktur, proses, dan tahapan. Struktur di sini mempunyai arti sebagai
struktur-struktur yang diakibatkan karakteristik batuan yang mempengaruhi
bentuk permukaan bumi (lihat Gambar 1). Proses-proses yang umum terjadi adalah
proses erosional yang dipengaruhi oleh permeabilitas, kelarutan, dan
sifat-sifat lainnya dari batuan. Bentuk-bentuk pada muka bumi umumnya melalui
tahapan-tahapan mulai dari tahapan muda (youth), dewasa (maturity), tahapan tua (old age),
lihat Gambar 2.Pada tahapan muda umumnya belum terganggu oleh gaya-gaya
destruksional, pada tahap dewasa perkembangan selanjutnya ditunjukkan dengan
tumbuhnya sistem drainasedengan jumlah panjang dan kedalamannya yang
dapat mengakibatkan bentuk aslinya tidak tampak lagi. Proses selanjutnya
membuat topografi lebih mendatar oleh gaya destruktif yang mengikis, meratakan,
dan merendahkan permukaan bumi sehingga dekat dengan ketinggian muka air laut
(disebut tahapan tua). Rangkaian pembentukan proses (tahapan-tahapan)
geomorfologi tersebut menerus dan dapat berulang, dan sering disebut sebagai
Siklus Geomorfik.
Gambar 1. Sketsa yang memperlihatkan
bentuk-bentuk permukaan bumi akibat struktur geologi pada batuan dasarnya.
Gambar 2. Sketsa yang memperlihatkan
perkembangan (tahapan) permukaan bumi (landform).
Dari (A s/d D) memperlihatkan tahapan geomorfik muda sampai dengan tua.
Selanjutnya dalam mempelajari geomorfologi perlu dipahami
istilah-istilah katastrofisme, uniformiaterianisme, dan evolusi.
§
Katastrofisme
merupakan pendapat yang menyatakan bahwa gejala-gejala morfologi terjadi secara
mendadak, contohnya letusan gunung api.
§
Uniformitarianisme
sebaliknya berpendapat bahwa proses pembentukkan morfologi cukup berjalan
sangat lambat atau terus menerus, tapi mampu membentuk bentuk-bentuk yang
sekarang, bahkan banyak perubahan-perubahan yang terjadi pada masa lalu juga
terjadi pada masa sekarang, dan seterusnya (James Hutton dan John Playfair,
1802).
§
Evolusi cenderung
didefinisikan sebagai proses yang lambat dan dengan perlahan-lahan membentuk
dan mengubah menjadi bentukan-bentukan baru.
1. Proses-Proses Geomorfik
Proses-proses geomorfik adalah semua perubahan fisik dan kimia
yang terjadi akibat proses-proses perubahan muka bumi. Secara umum
proses-proses geomorfik tersebut adalah sebagai berikut :
a. Proses-proses epigen (eksogenetik) :
§
Degradasi ; pelapukan,
perpindahan massa (perpindahan secara gravity), erosi (termasuk transportasi)
oleh : aliran air, air tanah, gelombang, arus, tsunami), angin, dan glasier.
§
Aggradasi ; pelapukan,
perpindahan massa (perpindahan secara gravity), erosi (termasuk transportasi)
oleh : aliran air, air tanah, gelombang, arus, tsunami), angin, dan glasier.
§
Akibat organisme
(termasuk manusia)
b. Proses-proses hipogen (endogenetik)
§
Diastrophisme
(tektonisme)
§
Vulkanisme
c. Proses-proses ekstraterrestrial, misalnya kawah akibat
jatuhnya meteor.
1.1 Proses Gradasional
Istilah gradasi (gradation)
awalnya digunakan oleh Chamberin dan Solisbury (1904) yaitu semua proses dimana
menjadikan permukaan litosfir menjadi level yang baru. Kemudian gradasi
tersebut dibagi menjadi dua proses yaitu degradasi (menghasilkan level yang lebih
rendah) dan agradasi (menghasilkan level yang lebih tinggi).
Tiga proses utama yang terjadi pada peristiwa gradasi yaitu :
§
Pelapukan, dapat
berupa disentrigasi atau dekomposisi batuan dalam suatu tempat, terjadi di
permukaan, dan dapat merombak batuan menjadi klastis. Dalam proses ini belum
termasuk transportasi.
§
Perpindahan massa (mass wasting), dapat berupa perpindahan (bulk transfer) suatu massa batuan sebagai akibat dari gaya gravitasi.
Kadang-kadang (biasanya)efek dari air mempunyai peranan yang cukup besar, namun
belum merupakan suatu media transportasi.
§
Erosi, merupakan suatu
tahap lanjut dari perpindahan dan pergerakan masa batuan. Oleh suatu agen
(media) pemindah. Secara geologi (kebanyakan) memasukkan erosi sebagai bagian
dari proses transportasi.
Secara umum, series (bagian/tahapan)
proses gradisional sebagai berikut landslides (dicirikan oleh hadirnya sedikit
air, dan perpindahan massa yang besar), earthflow (aliran batuan/tanah),
mudflows (aliran berupa lumpur), sheetfloods, slopewash, dan stream (dicirikan
oleh jumlah air yang banyak dan perpindahan massa pada ukuran halus denganslopeyang kecil).
a. Pelapukan batuan
Pelapukan merupakan suatu proses penghancuran batuan manjadi
klastis dan akan tekikis oleh gaya destruktif. Proses pelapukan terjadi oleh
banyak proses destruktif, antara lain :
§
Proses fisik dan
mekanik (desintegrasi) seperti pemanasan, pendinginan, pembekuan; kerja
tumbuh-tumbuhan dan binatang , serta proses-proses desintegrasi mekanik lainnya
§
Proses-proses kimia
(dekomposisi) dari berbagai sumber seperti : oksidasi, hidrasi, karbonan, serta
pelarutan batuan dan tanah. Proses dekomposisi ini banyak didorong oleh suhu
dan kelembaban yang tinggi, serta peranan organisme (tumbuh-tumbuhan dan
binatang).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pelapukan antara lain :
§
jenis batuan, yaitu
komposisi mineral, tekstur, dan struktur batuan
§
kondisi iklim dan
cuaca, apakah kering atau lembab, dingin atau panas, konstan atau berubah-ubah.
§
kehadiran dan
kelebatan vegetasi
§
kemiringan medan,
pengaruh pancaran matahari, dan curah hujan.
Proses pelapukan berlangsung secara differential weathering(proses pelapukan dengan perbedaan intensitas
yang disebabkan oleh perbedaan kekerasan, jenis, dan struktur batuan). Hal
tersebut menghasilkan bentuk-bentuk morfologi yang khas seperti:
§
bongkah-bongkah
desintegrasi (terdapat pada batuan masif yang memperlihatkan retakan-retakan
atau kekar-kekar),
§
stone
lattice (perbedaan kekerasan
lapisan batuan sedimen yang membentuknya), mushroom (berbentuk jamur),
§
demoiselles (tiang-tiang tanah dengan
bongkah-bongkah penutup),
§
talus (akumulasi
material hasil lapukan di kaki tebing terjal),
§
exfoliation
domes (berbentuk bukit
dari batuan masif yang homogen, dan mengelupas dalam lapisan-lapisan atau
serpihan-serpihan melengkung).
Pada Gambar 3 dapat dilihat kenampakan talus dan exfoliation domes.
Gambar 3. (a). Kenampakan bentuk talus, (b).
Suatu exfolation domes,
(c). demoiselles, (d). mushroom
b. Perpindahan massa (mass wasting)
Gerakan tanah sering terjadi pada tanah hasil pelapukan,
akumulasi debris (material hasil pelapukan), tetapi dapat pula pada batuan
dasarnya. Gerakan tanah dapat berjalan sangat lambat hingga cepat.
Gambar 4 Mass wasting
Gambar 4 Mass wasting
Menurut oleh Sharpe (1938) kondisi-kondisi yang menyebabkan
terjadinya perpindahan masa adalah :
§
Faktor-faktor pasif
1.
faktor litologi :
tergantung pada kekompakan/rapuh material
2.
faktor statigrafi :
bentuk-bentuk pelapisan batuan dan kekuatan (kerapuhan), atau
permeabel-impermeabelnya lapisan
3.
faktor struktural :
kerapatan joint, sesar, bidang geser-foliasi
4.
faktor topografi :
slope dan dinding (tebing)
5.
faktor iklim :
temperatur, presipitasi, hujan
6.
faktor organik :
vegetasi
§
Faktor-faktor aktif
1.
proses perombakan
2.
pengikisan lereng oleh
aliran air
3.
tingkat pelarutan oleh
air atau pengisian retakan
1.2 Proses Diastromisme dan Vulkanisme
Diastromisme dan vulkanisme diklasifikasikan sebagai proses
hipogen atau endapan karena gaya yang bekerja berasal dari dalam (bagian bawah)
kerak bumi. Proses-proses diastropik dapat dikelompokkan menjadi 2 tipe yaitu :
1.
orogenik (pembentukkan
pegunungan)
2.
epirogenik (proses
pengangkatan secara regional).
Vulkanisme termasuk pergerakan dari larutan batuan (magma) yang
menerobos ke permukaan bumi. Akibat dari pergerakan (atau penerobosan) magma
tersebut akan memberikan kenampakan yang muncul di permukaan berupa badan-badan
intrusi, atau berupa deomal
folds (lipatan
berbentuk dome) akibat terobosan massa batuan tersebut), sehingga perlapisan
pada batuan di atasnya menjadi tidak tampak lagi atau telah terubah.





